the peak-end rule
mengapa kita hanya ingat momen paling sial atau paling beruntung saja
Pernahkah kita mengalami momen liburan yang luar biasa sempurna? Bayangkan, selama enam hari berturut-turut kita makan enak, cuaca sangat cerah, dan pemandangan luar biasa indah. Semuanya terasa magis. Tapi di hari ketujuh, tepat sebelum pulang, dompet kita copet di stasiun dan kita ketinggalan kereta.
Coba tebak, ketika ada teman yang bertanya sebulan kemudian, "Bagaimana liburannya?", cerita apa yang pertama kali meluncur dari mulut kita?
Sembilan puluh persen dari kita pasti akan langsung mengeluh soal dompet yang hilang dan kacaunya jadwal kereta. Enam hari yang magis tadi seolah menguap begitu saja. Memori kita tiba-tiba dibajak oleh satu hari yang buruk.
Mengapa otak kita bersikap tidak adil seperti ini? Mengapa kita cenderung mengabaikan gambaran besarnya, dan hanya mengingat momen paling sial atau, sebaliknya, momen yang paling luar biasa beruntung? Kita mungkin sering merasa bahwa ingatan kita ini objektif. Kenyataannya, ada sebuah rahasia psikologis yang diam-diam mengontrol cara kita mengingat masa lalu.
Untuk memahami keanehan ini, kita harus berhenti menganggap memori sebagai sebuah kamera CCTV. Banyak dari kita berpikir bahwa otak merekam setiap detik kehidupan kita secara utuh, menyimpannya di sebuah folder rahasia, lalu memutarnya ulang saat kita butuh.
Faktanya, dari sudut pandang sejarah evolusi manusia, otak kita adalah editor film yang sangat pemalas dan sangat pelit energi.
Otak manusia itu beratnya cuma sekitar dua persen dari total berat badan kita, tapi dia rakus menyedot dua puluh persen energi tubuh. Jutaan tahun lalu, di padang sabana, nenek moyang kita harus hemat kalori agar bisa bertahan hidup. Menyimpan memori tentang setiap detik cuaca yang cerah atau setiap langkah saat berburu adalah pemborosan energi yang fatal.
Jadi, otak kita harus memutar otak. Ia mulai melakukan penyortiran ekstrem. Daripada menyimpan video berdurasi panjang, otak memutuskan untuk hanya menyimpan semacam highlight reel atau cuplikan adegan-adegan paling dramatis saja. Otak kita membuang bagian yang membosankan dan hanya menyimpan data yang dianggap krusial untuk bertahan hidup di masa depan. Tapi, bagaimana sebenarnya otak menentukan adegan mana yang masuk ke dalam cuplikan tersebut?
Mari kita bedah sebuah eksperimen klasik yang cukup aneh tapi sangat membuka mata. Pada pertengahan tahun 90-an, sekelompok ilmuwan mengundang orang-orang ke laboratorium untuk sebuah tes menahan rasa sakit ringan.
Di sesi pertama, partisipan diminta merendam tangan mereka ke dalam air es bersuhu 14 derajat celcius selama tepat 60 detik. Rasanya sangat ngilu dan tidak nyaman.
Di sesi kedua, partisipan kembali merendam tangan di air es bersuhu 14 derajat celcius selama 60 detik. Namun kali ini, alih-alih disuruh langsung mengangkat tangan, mereka diminta membiarkan tangannya di dalam air selama 30 detik tambahan. Bedanya, di 30 detik terakhir itu, ilmuwan diam-diam mengalirkan sedikit air hangat, sehingga suhunya naik tipis menjadi 15 derajat celcius. Rasanya masih dingin, masih menyiksa, tapi rasa sakitnya sedikit berkurang di akhir.
Coba teman-teman pikirkan secara matematis. Sesi pertama penderitaannya hanya 60 detik. Sesi kedua penderitaannya 90 detik. Sesi mana yang lebih menyiksa? Logikanya pasti sesi kedua.
Lalu ilmuwan memberikan satu pertanyaan terakhir: "Kalau tes ini harus diulang satu kali lagi, kalian pilih mengulang sesi yang mana?"
Hasilnya benar-benar di luar nalar. Mayoritas orang memilih untuk mengulang sesi kedua. Ya, mereka secara sadar memilih penderitaan yang lebih lama. Mengapa otak manusia bisa membuat kalkulasi yang sebodoh ini?
Teka-teki ini dijawab dengan brilian oleh psikolog peraih Nobel, Daniel Kahneman. Fenomena ini melahirkan sebuah konsep yang kini dikenal dalam dunia sains sebagai The Peak-End Rule.
Kahneman menemukan bahwa saat otak kita merangkum sebuah pengalaman masa lalu, ia sama sekali tidak peduli pada durasi. Otak mengalami apa yang disebut sebagai duration neglect (pengabaian durasi). Otak kita hanya menilai sebuah pengalaman berdasarkan dua titik ekstrem: titik puncak intensitas emosi (peak) dan titik akhir dari pengalaman tersebut (end). Sisanya? Dihapus.
Mari kita kembalikan ke eksperimen air es tadi. Pada sesi pertama, memori akhirnya (end) adalah rasa ngilu yang tajam di detik ke-60. Sementara di sesi kedua, memori akhirnya adalah rasa lega yang tipis karena suhu air sedikit menghangat di detik ke-90. Karena "akhir" cerita di sesi kedua terasa lebih baik, otak mengabaikan fakta bahwa partisipan menderita lebih lama.
Ini persis seperti cerita liburan kita di awal tadi. Tidak peduli enam hari pertama kita bersantai bak raja, jika hari terakhirnya (end) kita kecopetan, otak akan merangkum seluruh liburan itu sebagai "pengalaman yang buruk". Otak kita memang sangat dramatis. Ia tidak menjumlahkan pengalaman layaknya kalkulator, melainkan merasakannya layaknya seorang kritikus film yang hanya peduli pada adegan klimaks dan ending cerita.
Mungkin teman-teman bertanya, lalu apa untungnya kita mengetahui fakta bahwa otak kita ini bias?
Jawabannya: kita jadi punya kekuatan untuk meretas (hack) memori kita sendiri. Menyadari The Peak-End Rule membuat kita lebih berempati pada diri sendiri dan orang lain. Kita jadi tahu bahwa saat kita merasa harimu hancur berantakan, itu belum tentu kebenarannya. Bisa jadi itu hanyalah otak kita yang sedang menyoroti satu momen sial di penghujung hari.
Lebih jauh lagi, kita bisa menggunakan sains ini untuk menciptakan kebahagiaan. Jika kita sedang merancang liburan, kencan, atau bahkan sekadar menyusun jadwal kerja, pastikan kita selalu menyiapkan sesuatu yang menyenangkan di bagian akhir. Simpan restoran paling enak untuk hari terakhir liburan. Sisakan topik obrolan paling santai di akhir rapat kerja yang melelahkan. Makanlah makanan penutup favorit kita di suapan terakhir.
Kita memang tidak bisa mengontrol setiap detik kejadian dalam hidup kita. Penderitaan, kebosanan, dan kesialan pasti akan selalu ada. Tapi, setidaknya sekarang kita tahu satu rahasia besar: kita bisa memanipulasi ingatan kita di masa depan, cukup dengan memastikan segala sesuatunya berakhir dengan senyuman.